WS Udek Oto, Gresik : STANDARISASI MONKEY BIKE 12” DINILAI LEBIH PROPORSIONAL

Tapak kaki monkey bike. Bergulir seiring dengan pertumbuhan minat pasar & sebagai indikasi penghobi segmen ini makin marak. Tapak kaki monkey bike. Bergulir seiring dengan pertumbuhan minat pasar & sebagai indikasi penghobi segmen ini makin marak.

Dinamika monkey bike, terus bergulir mengikuti minat pasar. Artinya, telah terjadi pergeseran, sehubungan dengan input performa pembanding ukuran tapak kaki, dari ring 8”, 10” dan 12”.

Sisi lain, karena dipicu oleh basic monkey bike, yang mengalami kecenderungan merujuk ke mesin bebek 125 cc. Hal demikian sebagai indikasi, kalau perkembangan monkey bike cukup atraktif.

Mulai terjadi improve dari pelakunya, hingga menginginkan ciri khas dan trade mark yang berbeda. Intinya, setiap penghobi monkey bike, menghendaki performa yang proporsional.

Mesin 125 cc. Mulai banyak dijadikan basic monkey bike & memang proporsional dipadu tapak kaki 12".

 

Dengan begitu, pakem monkey bike sedikit ditabrak, sebagai evolusi. “Tapi, perkembangan seperti ini, telah ada di ruang pemikiran saya, sejak awal bergulirnya monkey bike di 3 - 4 tahun silam, ”tegas Udek punggawa WS Udek Oto di kawasan Raya Hulaan, Gresik.

Evolusi seperti ini sah-sah saja, bahkan menjadi bukti keseriusan penghobi monkey bike. Dan memang rasional, ketika tapak kaki ring 12” diaplikasi. Kestabilan lebih dapat, saat mengawal mesin 125 cc.

Tapak kaki 12". Geometri frame jadi melar.

 

Catatan terpenting, pengaruh dari pemakaian ring 12”, otomatis geometri frame, tim kita turut improve guna menyelaraskan. Terutama dari wheelbase lebih panjang, agar tampilan tetap tersaji proporsional.

Rubahan ini, justru lebih disukai oleh penghobi monkey bike. Mengingat, pencapaian riding style yang nyaman lebih didapat. Peluang ini pula, saya jadikan kesempatan untuk mengaplikasi frame yang inovatif.

Frame inovatif. Bahan seamles & praktis, bobot makin ringan.

 

Secara kontruksi tipe tubular, tapi lebih simpel dan praktis. Untuk mendapat bobot yang lebih ringan, bahan frame memakai seamless. Secara position market, memang saya tarungkan dengan frame import yang dipasang di rentang harga Rp. 1,6 juta.

“Dengan kualitas frame yang kompetitif, saya berani pasang harga Rp. 1,4 juta, ”lontar Udek.

Mbah Yoyok mekanik WS Udek Oto, Gresik. Fitur frame lebih kaya, untuk merebut pasar monkey bike.

 

Fiturnya cukup smart, untuk bushing komstir ukuran lebih besar. “Sehingga bisa dicangkok triple clamp semua tipe. Sebab, ukuran bearing komstirnya telah diseting sampai ukuran bearing komstir sport, ”detail Mbah Yoyok mekanik WS Udek Oto, Gresik.

Unit swing arm. Dilengkapi sistem needle bearing & lebih responsif.

 

Demikian swing arm, kanan kiri pakai sistem needle bearing. Sebagai penunjang respons mekanis suspensi belakang. Untuk tumpuan double sok bagian atas, tersedia 3 titik. “Jadi, proses seting tingkat kekenyalan relatif lebih mudah, cukup membuka mur-nya saja, ”tunjuk mbah Yoyok.   teks - foto : enea

 

Related Articles

Similar Articles

  • Hogo Exhaust Factory - RX-King Edition : MANJAKAN RX KING MANIA & TETAP AKSI USAI PANDEMI
  • 3H Mall Otomotif, Surabaya : SENTRAL LAYANAN TERPADU KEBUTUHAN PENGHOBI OTOMOTIF & DIKLAIM PERTAMA DI INDONESIA TIMUR
  • WS Udek Oto, Gresik : STANDARISASI MONKEY BIKE 12” DINILAI LEBIH PROPORSIONAL
  • Boyrenx Racing Factory, Surabaya : KEMBANGKAN SAYAP & MEMBANGUN MINI TRACK PREMIUM STORE
  • Workshop Gaya Motor, Wonocolo, Sepanjang : FROM ZERO TO HERO